Clock..

Check Day

Cerpen 'Kesabaran Berbuah Benih Untuk Cici' Part 1

Sabtu, 16 April 2011

Sore itu, burung-burung gereja bertebangan. Termasuk Cici, seekor burung gereja cilik betina. Dia bergandengan tangan dengan Dica, teman dekatnya. Memang setiap sore, burung gereja pergi untuk menerima benih dari Peri Hijau, peri yg bertugas mengawasi hama seperti tanaman liar dan lumut agar tidak pergi dari tempat yang sudah di tentukan. Peri Hijau memberi para burung gereja benih tanaman liar untuk ditebarkan pada siang hari. Kini mereka telah sampai di kediam Peri Hijau, Hutan Husen. Burung-burung berbaris di depan rumah Peri Hijau. Peri Hijau pun keluar.
“Hai, Teman-teman! Sudah siap?” tanya Peri Hijau. Semua mengangguk.
“Sudah!” balas yang lainnya.
“Seperti biasa, setiap biji sebelum di tebarkan, diberi nama dulu! Setiap orang hanya berhak memegang satu biji! Jika ada yang kehilangan bijinya, cari yang memegang dua biji dan lihat, apakah ada nama kalian? Kalau tidak ada, berati berusahalah untuk mencarinya. Kalau hilang, tak apa, itu tidak terlalu penting!” seru Peri Hujan panjang lebar. Semua mengangguk. Mulailah Peri Hijau membagikan biji. Setelah Cici dan Dica mendapat, mereka langsung menjauh dari kerumunan. Mereka langsung terbang menuju Lapangan Kozusue.
Sesampainya di Lapangan Kozusue ...
“Ci, ada pena nggak?” tanya Dica. Cici mengeluarkan penanya. Disini tak ada bolpoint, melainkan pena. Kalau bolpoint, lebih besar. Jadi burung tak bisa menggunakannya. Kalau pena, bisa dibesarkan, juga dikecilkan sesuai ukuran burung.
“Makasih, Ci,” kata Dica. Cici hanya mengangguk. Dica langsung menulis namanya di biji yang diberi Peri Hijau.
“Kamu langsung kasih nama, Ca?” tanya Cici.
“Ya dong. Nanti kalau hilang, kan sudah ada namanya,” jawab Dica.
“Berikan pena itu padaku!” perintah Cici. Dica menyerahkan pena Cici karena dia pun sudah selesai. Cici menulis namanya.
“Penamu ini permanen bukan?” tanya Dica.

0 komentar:

Posting Komentar